#RANDOM / / / VANTABLACK, CRAZY COLORLESS ANTI-COLOR

Tuesday, 28 November 2017


Darkest material on Earth will create a 'schism in space' for Winter Olympics. " -- CNN


-

(image source. link)

I just found about Vantablack last night in CNN channel though my Facebook page. The blackest black material that human even find is completely blow out my mind. How come, it looks so black I can't see the depth?

That because the color is not a color, the anti-color. This anti-color is a material developed by Surrey Nano Systems. Originally, on his website about vantablack, this man-made colorless anti-color material was developed for aerospace projects and space equipment. They put a coating inside of the space telescope to minimize the incident light comes into the view. The image we can get is more clearer from any stray light because it is like we dim down the flare. But then, the result of this material founded 3 years ago, was beyond its starting point, and many people began trying to find its widespread application in art, design, and engineering.

(image source. link)

The Vantablack material is originally made from a forest of carbon nano-tube, binds in chemical process so it is so dense with velvety look, yet so fragile to touch. The bounding between the nano-element is not strong as a diamond, the strongest carbon bounding in the earth. And because of it, when you touch the surface of Vantablack, it will dip the surface and damage the chemical bounding. So chill and keep your mind in your head, technically, nowdays version is not really that ready to be mass-used in every single product, just like what every artist or designer eager to do when this material was released. Plus, the price is really expensive, more expensive than gold and diamond, processes through a very complicated steps in its laboratory and plus, there is no a specific way on mass-producing Vantablack yet.

(image source. link)

How this Vantablack even works a blackest black, is so simply. While our eyes read a color by the light which is reflected by the material surface, the vantablack material just absorbs all of the light, about 99.96 % of light is absorbed by the forest of carbon nano-tube. The lack of reflected light to be said, that our eyes reads as a lack of color, black. It is completely different from how we get 'rich black' by combining red, green, and blue paint with the same ratio all together. [This is what I got from WikiHow, How to Make Black]. The light works in the opposite way. When all of the wavelength colors are mixed together, we get a white colors. Every materials has different ability to absorb color. And the reflected color our eyes see is how we name the material color. When all of the color is absorbed, no one is reflected, automatically, our eyes see the absence of color. I think, this is why, Vantablack material can create such as a deflected space, turning a 3D object into flat 2D object, visually. Because of this powerful visual illusion, my mind begin wondering about its possibility in the making of art and design.

(image source. link)
(image source. link)

Eventually, artist Anish Kapoor, has a special privilege using this colorless anti-color material as his artwork material, and personally bands other artist to use it, creating a rage among his colleague in the art-scene. Another artist -sculpture and landscaper-, Lucien den Arend, also uses this non-pigmented pigment as part of his work, drenches landscape into Vantablack, creating a disturbing burning effect of the unseen black color object among trees and grasses. When it comes to creating art, Vantablack is supposed to elevate the meaning of blackness into whole different new level of its conceptual scenario and philosophy, then how about making architecture?

(image source. link)

I find this image on google when I search about Vantablack use in Architecture. And I begun, absentmindedly, think this picture as a joke. The Bean - as the Cloud Gate called for its shape - was design by Anish Kapoor, yes, the same artist whose claim himself as the only artist who can use Vantablack, as it won the competition. The Bean material is made from mercury, creating an unique reflective surface and distorted image of the skyline. This object is really famous among tourist as a photo spot. And now, since, Anish Kapoor seems to nominee himself as a specialist Vantablack artist, I guess, this meme is viral in the internet. What a shame!

(image source. link)

Though in architecture itself, a British architect, Asif Khan, now is using this Vantablack material as a part of his project, 2018 Winter Olympics in South Korea. He is designing a curved-wall space layered in Vantablack to create it the same as a space -aerospace like-. A lot of tiny lights are installed to look like stars. Just so the people who walks pass trough this space, is like walking in the distorted space and time, experiencing the endless galaxy. Just because the CNN mention it, immediately I begin to recall a very memorable scene from La La Land, Sebastian and Mia, dance with the star in the observatory.

(image source. link)
(image source. link)
(image source. link)

And just like that, my mind begin to wonder, what else we can do with this Vantablack anti-color material's magic? Nor that I hope that this Vantablack will be available in the another shade of black fabric.

[ ]


RANDOM / / / Di Kota Ini, Musim Semi Mekar saat Oktober



Sebelum hujan turun sepotong-sepotong, pohon itu berbunga serupa menyambut musim berganti. Musim semi di kota ini mungkin tiba disaat belahan bumi utara menggugurkan daun-daun yang berwarna romantis. Aku membayangkan diriku berdiri di bawah deretan pohon Sakura yang bunganya berguguran. Sebuah pemandangan yang tak pernah sekali pun terekan dalam ingatan.

#FIKSI / / / Di Pernikahan Kedua

Wednesday, 1 March 2017

Di pernikahan kedua bulan ini, kita bertemu setelah sekian lama. Aku tak tahu kalau-kalau kau akan datang hari ini, padahal dua minggu lalu jelas kau tak mendatangi pernikahan salah satu teman kita itu. Ah, tapi jelas saja kau pastikan datang di acara ini. Bagaimana mungkin kau melewatkan pernikahan perempuan yang kau cintai begitu saja. Aku malah lebih menyukai pilihan yang lainnya, melewatkan kebahagiaan kedua mempelai dan memilih untuk mendekap kesedihan yang tidak ada habisnya ini. Coba terangkan padaku, bagaimana bisa wajahmu setenang malam? Meski aku tahu, pandanganmu berkabut, antara haru dan duka.

Seperti biasa, malam itu, kita saling menunggu teman-teman kita lainnya untuk masuk ke gedung resepsi. Ada yang membawa suami/istri mereka. Ada pula yang menggendong anak mereka yang masih balita. Sungguh hari ini pasti hari yang besar, reuni yang tak terduga, demi menghadiri pernikahan perempuan yang seumur hidupmu itu kau cintai. Ah, aku tak perlu menyebutkan, bukan, kalau ia cinta pertamamu dan, tentu selama ini kau belum bisa beranjak dari perempuan itu meski setiap hari berada di dalam perut bumi? Bah, tentu saja, dipertambangan tak mudah kau temukan perempuan macam dia. Tidak seperti kalau kau bekerja kantoran di Jakarta. Apa kataku padamu dulu ketika kau mengambil pekerjaan itu? Tapi kau sepertinya memilih mengubur diri di bawah tanah dan menampik fakta bahwa kau pun harus mengubur perasaanmu itu jauh-jauh, atau lebih tepatnya, dalam-dalam, lebih dalam daripada ujung mata bor tambang tempat kau bekerja itu.

Mengantri sambil bercanda, aku mengamatimu yang berdiri lebih depan daripadaku yang menggerombol bersama teman-teman perempuan kita. Kuakui, mungkin karena jarang melihat permukaan bumi, atau karena kau yang jauh dari peradaban  itu terlihat mengurus. Aku bisa melihat jelas pipimu yang menirus dan cekungan mata yang terlihat dalam. Ah, tak lupa aku sebutkan kantung mata yang kentara menghitamkan bawah kelopak matamu. Kau terlihat sangat lelah. Secara mental pun mungkin juga. Aku bisa merasakan kesedihan yang tersorot dalam tatapan matamu ketika sesekali kau mencuri-curi pandang ke arah mempelai wanita.

Dan lihatlah, perempuan yang kau cintai itu. Begitu mungil, begitu rapuh, dengan senyuman paling manis yang pernah aku lihat selama aku mengenalnya. Perempuan itu cantik sekali, sungguh cantik sekali. Semua orang memuji-mujinya ketika kita mengantri menyalaminya. Aku tidak heran, mengapa kau jatuh cinta padanya. Dan, tentu saja, kerling matanya yang memperlihatkan bahwa ia begitu cerdas dan mandiri. Jika aku pun seorang laki-laki, aku pasti akan jatuh cinta padanya.

Tibalah giliran kita menyalami kedua mempelai. Kau berbisik sesuatu pada perempuan itu dan membuat perempuan itu tersenyum sopan dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tahu arti tatapan itu. Ia pasti merasa sangat berterimakasih karena kau telah datang hari ini, melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu. Mungkin ia juga yakin, bahwa kau telah lama merelakan perempuan itu. Tetapi tidak, jelas sekali tidak. Aku melihatnya dari tatapan matamu pada perempuan itu. Tatapan yang dalam dan dipenuhi banyak hal. Keharuan, kesedihan, kekecewaan, kah itu? Kau menatap perempuan itu lebih lama daripada yang seharusnya, hingga akhirnya kau pun memalingkan wajahmu.

Setelah bersalaman, semua orang pun berpisah untuk memburu berbagai jenis makanan yang ada di ruang resepsi itu. Aku melihatmu berdiri di sisi yang paling jauh dari pelaminan. Sembari menyandarkan punggungmu pada dinding di belakang tubuhmu, kau hanya menggenggam segelas minuman honey lime with mint, tanpa berusaha meminumnya sedikit pun. Dan lihatlah, betapa aku yang paling tahu kau masih tidak terima perempuan itu akhirnya dipinang juga. Aku mengambil buah-buahan tak jauh dari kau berdiri lalu menyusulmu, berdiri sembari menyandarkan punggungku pada tembok dan mulai memakan buah-buahan itu.

"Kau tak makan?" tanyaku padamu.

"Tidak." jawabmu lalu menoleh ke arah piring kecil yang kubawa.

"Kau hanya makan itu?" tanyamu dengan nada heran sembari menunjuk ke arah piring buah di tanganku dengan kerlingannya.

"Diet." jawabku asal.

Kau pun mendengus geli.

"Apa?" tanyaku sambil memasukkan potongan buah terakhir di mulutku. Aku menoleh ke arahmu. Ternyata entah dari kapan, kau menatapku dengan tatapan geli dan tak percaya.

"Aku tak pernah menyangka kalau kau akan pernah bersikap seperti kebanyakan perempuan." jawabnya.

Aku mengangkat bahu. "Kuanggap itu sebuah pujian."

Kau menggeleng lemah sambil tersenyum kecil seolah barusan aku melontarkan candaan yang tidak lucu. Kau pun kembali menatap pelaminan. Aku pun mengikuti arah pandangmu.

"Cantik, ya?" tanyamu dengan suara yang belum pernah aku dengar sebelumnya, seperti tercekat dan sedih. Kau menatap perempuan itu dengan tatapan mendamba dan penuh kerinduan. Seperti seorang prajurit sehabis pulang dari perang menatap istrinya. Tetapi, di sini perempuan yang kau tatap itu adalah istri orang lain!

"Sangat. Sangat cantik. Aku tak heran mengapa ia," aku menunjuk laki-laki di samping perempuan itu dengan daguku, "jatuh cinta kepadanya."

Kau pun diam. Diammu itu lah yang membuatku jadi memandangi laki-laki yang berdiri di samping perempuan. Aku mengutukmu dalam hatiku yang paling dalam karena kau membuatku memandang laki-laki itu. Ya, laki-laki itu, laki-laki sialan yang selama bertahun-tahun tersimpan dalam sudut hatiku yang tak pernah orang lain ketahui!

Dan di sanalah ia pada akhirnya, bersanding dengan perempuan yang ia cintai, bukan diriku. Ia masih terlihat sama di mataku. Senyum itu, kerling matanya ketika aku menyalaminya, dan, Tuhan, suaranya yang membisikkan ucapan terimakasih di telingaku saat aku menyalaminya tadi. Kupikir waktu dan jarak adalah obat yang paling mujarab untuk pesakitan yang aku idab bertahun-tahun lamanya. Tetapi, bagaimana bisa setelah sekian lama aku berjalan di kehidupanku yang tak bersinggungan lagi dengannya setelah kelulusan waktu itu, laki-laki itu dengan mudahnya membuat hatiku bergetar oleh tatapannya dan senyumannya yang membuat seolah-olah ada sekian puluh gelombang ombak menghempas perutku? Aku jatuh cinta lagi padanya di hari pernikahannya setelah sekian lama tak bertemu! Sepertinya Tuhan memang sangat suka bercanda padaku.

"Ku pikir kau tak akan datang hari ini." ujarku setelah menemukan kata-kata yang sedari tadi terkubur oleh kesedihan kami berdua.

"Bagaimana mungkin, aku tidak datang di pernikahan kedua sahabat baik kita itu?" jawabmu dengan sebuah pertanyaan retoris.

Kau benar. Kita berempat dulu bersahabat baik, sangat baik, malah, hingga kita selalu pergi bersama-sama. Selalu bersama-sama. Lalu, kau pun tahu bagaimana semua ini berlanjut. Tapi tentu kau tak tahu satu rahasia lain yang aku tutupi. Tak seorang pun tahu.

"Kau bisa saja tidak datang, kalau kau mau. Kau punya alasan itu. Kau punya hak untuk tidak berada di sini." ujarku lemah.

Aku tak mengarahkan kalimatku itu kepadamu. Kalimatku itu sebenarnya adalah untuk diriku sendiri. Ya, aku punya hak untuk tidak berada di sini. Aku bisa membuat beribu alasan untuk tidak berada di sini. Tetapi, bagaimana bisa aku tidak datang kalau laki-laki yang berdiri bersama perempuan yang kau cintai itu memintaku langsung untuk datang? Bagaimana aku bisa menolak ketika laki-laki itu meneleponku setelah RSVP undangan yang kukembalikan itu kutulis tidak bisa hadir tanpa alasan yang kucantumkan?

"Aku tidak sepengecut itu." jawabmu menimpali pendapatku.

Kau benar. Aku sudah lama berhenti mengutuk diriku sendiri yang mengutuk kebahagiaan mereka. Aku sudah menyerah dan ingin melihat kedua sahabatku itu bahagia bersama. Toh, mereka tidak tahu apa-apa mengenai perasaan yang aku simpan. Kau juga tak tahu perasaan yang aku simpan. Semuanya aman dalam sudut hatiku yang paling dalam.

Lalu, di sinilah kita berdua, berdiri bersisihan di sudut paling jauh dari pelaminan, menyaksikan orang yang kita cintai ada akhirnya menikahi satu sama lain. Betapa menyedihkan apabila pasangan itu tahu apa yang sedang kita lakukan, mengagumi orang yang pernah mereka cintai dari jauh, sembari membagi kesedihan dengan satu sama lain. Dan kita pun melihat bagaimana kedua orang itu saling berpandangan. Tentu laki-laki itu memandangi perempuan itu seperti aku memandangi laki-laki itu. Dan perempuan itu pun demikian, memandangi laki-laki itu seperti kau memandangi sang perempuan. Sekarang pun, entah berapa lama lagi kita akan keluar dari ruangan ini. Kau dan aku pun memutuskan untuk memandangi orang yang seumur hidup kita cintai itu selama mungkin yang kita bisa, merekam sebanyak mungkin ekspresi wajah mereka, memandangi mereka untuk yang terakhir kalinya, mungkin.

Setelah keheningan yang entah berapa lama, aku pun berbicara.

"Dan, sekarang pun tinggal kita berdua. Apakah kau mau menghabiskan sisa hidupmu membagi kesedihan akan kehilangan orang yang kita cintai seumur hidup, bersamaku?"

Seolah salah dengar, kau menoleh perlahan untuk menatapku dengan tatapan kebingungan dan keseriusan yang kentara sekali. Sementara aku hanya menatapmu dengan ekspresi paling tenang yang pernah aku lakukan. Tenang, tenang sekali hingga aku tak sadar apakah aku serius atau tidak.

[ ]